
Berolah raga sepeda menjadi kegemaran disetiap pagi sebelum kekantor, menyusuri jalan-jalan kota Makassar menikmati pagi di sepanjang jalan kota Makassar tak terkecuali sepanjang Pantai losari, Benteng Rotherdam,wajah Karebosi yang baru, Menara Bosowa, Monumen mandala, melirik sejenak pendopo gubernur , bangunan bari Menara Kalla dan kembali meniti jalan ratulangi buat sampai kerumah. Suasana pagi memang membawa berkah yang luar biasa buat kita insan yang bersyukur , menatap kota Makassar disetiap pagi, ada keheningan dan kebisuan yang sesekali di iringi tarikan nafas yang dalam menyaksikan geliat pembangunan kota Makassar.
Pembangunan di Sulsel ini begitu pesatnya oleh duo Pemimpin Muda yang penuh spirit , Pak Syahrul di Propinsinya dan Pak Ilham di Kota Makassarnya, maka tak heran kalau pembangunan di Sulsel ini seperti kompetisi membuktian jati diri “ Mappaenteng Siri’, Kualleangi Tallanga na Toalia” Penataan sebuah kota metropolitan terus dilakukan,jalan layangpun jawabannya,penerapan tertib lalulintas terbaru sementara sosialisasi,jangan lagi berbelok kiri langsung ,itu salah satu aturan terbarunya.
Sudah 1 bulan lebih makassar mati lampu bergilir berbagai alasan yang tidak dapat dibantah, mulai dari mengeringnya Bakaru sampai kerusakan instalasi di Sengkang. Kota yang terus berbenah ini kemudian mengalami pemadaman bergilir 2 sampai 3 jam sehari yang bisa berlaku 2 sampai 3 kali sehari, hujatan bercampur keluhan pun berdatangan, ditujukan ke PLN langsung atau sentilan janji-janji pemimpin terpilih untuk jaminan listriknya.
Kondisi mati lampu yang sudah kita rasakan cukup lama ini dengan berbagai kerugian materil dan in materil tidak kemudian menjadikan kita terlalu jauh dalam keluhan-keluhan yang berakhir pada pemakian dan hujatan, berangkali sesekali kita perlu memunculkan pribadi kita sebagai insan yang beragama, membiasakan diri untuk selalu bersyukur kepadaNya untuk kemudian berucap “untung masih mati lampu bukan Gempa”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar