Genap setahun sudah sepeda ini menemani keseharianku dimakassar, meski kebersamaan ini terasa sedikit karena hanya ku kayuh di hari libur kantor, menikmati pagi di sepanjang jalan kota Makassar tak terkecuali sepanjang Pantai losari, Benteng Rotherdam,wajah Karebosi yang baru, berkelok ke Monumen mandala, melirik sejenak pendopo gubernur dan kembali meniti jalan ratulangi buat sampai kerumah. Suasana pagi memang membawa berkah yang luar biasa buat kita insan yang bersyukur , menatap kotaku disetiap pagi, ada keheningan dan kebisuan yang sesekali di iringi tarikan nafas yang dalam menyaksikan geliat pembangunan kotaku.
Tiga tahun silam, sepeda ini menemani hari-hari kuliah di yogyakarta, hilir mudik menyusuri jalan-jalan seputar UGM, segala keperluan telah kugunakan, bersama sepeda motor dan mobil mahasiswa yang terparkir setiap hari di pelataran kampus Fakultas kedokteran. Libur kuliah di hari ahad menjadi sore yang sangat menyenangkan karena sepeda ini menjadi teman setia buat menyusuri jalan sepanjang Malioboro terus ke kraton dan berakhir di Grobak pak tua yang menyediakan teh hangat yang dipanaskan memakai arang, kenikmatan yang mungkin agak sulit kunikmati di tempat lain. Meneguk teh dengan ceker dan leher ayam , tahu dan tempe bacem.
Masih segar di ingatan sepeda itu kubeli sehari setelah menginjakkan kaki di pelataran kampus IKM, pagi itu langsung ikut pembekalan yang diselenggarakan minat yang di isi perkenalan dosen dan modul kuliah, berlangsung hingga sore hari, disaat materi terakhir untuk penunjukan ketua kelas saya izin sama teman untuk tidak ikut dan bergegas menuju Malioboro untuk membeli sepeda ini, jelang magrib mataku tertuju toko tempat sepeda merah kombinasi biru ini bertengger dan menarik perhatianku, tidak lama negosiasi harga, saya akhirnya memiliki sepeda ini untuk kemudian menemaniku memulai hari-hari menjadi masyarakat yogyakarta sebagai mahasiswa 2 tahun kedepan...
Banyak kisah yang terlewatkan bersama sepeda ini, termasuk masa MENDUNG SEPEKAN, sepedaku ini selalu rusak , silih berganti bengkel sepeda kudatangi tapi semua hanya bertahan sesaat, setelah itu rusak dan rusak lagi, silih berganti kerusakannya mulai pedal kocak, terali yang putus sampai putaran roda yang tidak rata. Mobilisasi kampus terhambat sementara rasa bersalah turut bersemayam di dada, merasa tidak perduli dan melupakan sahabatku ini,sepeda sebagai hewan tunggangan yang terus ku kayuh tampa pernah memberikan apa yang menjadi haknya...PERAWATAN....resahku.....
Sampai akhirnya di sudut Terban depan MC D, seorang bapak tua dan anak menantunya belakangan kuketahui dari tukang tempel ban menunjukkan bengkel sepeda yang kucari. Setelah kusampaikan keluh kesahku selama sepekan bersama sepedaku menemani hari-hari sulitnya, beliaupun tersenyum ramah dan mulai membuka pedal yang kocak itu....ada keyakinan yang dalam saat kutatap wajah dan tutur kata jawa yang teramat luhur keluar dari mulutnya saat menjelaskan kerusakan itu bahwa masalah sepedaku ini segera akan teratasi.
SUBHANALLAH.....menanti waktu perbaikan sepeda ternyata bukan saat yang membosankan, toko sepeda yang nampak kusut itu ternyata telah membawa suasana dan alur fikir saya di jogja tempo doeloe, didalamnya terparkir lima sepeda ontel yang kuno habis, Belanda banget gitu loh kata orang sini, pak tua itu larut dengan jawaban-jawabannya yang tak putus di dera pertanyaan dari mulut saya, mulai dari tahun sepeda ini bapak miliki sampai jalan2 di jogja dan bangunan yang ada di sekitar bengkel ini dulu seperti apa ? Hal yang amat berkesan karena obrolan kami itu di iringi oleh bunyi gamelan jawa yang damai keluar dari Radio yang tidak pernah berpindah siaran sejak jaman belanda, termasuk posisinya dan radionya sendiri yang super antik dan sangat tua...
Benar saja, sepedaku selama dari bengkel itu tidak pernah rusak lagi, yang terjadi kemudian adalah saya selalu menyempatkan diri setiap pekan berkunjung ke bengkel itu hanya untuk sekedar ngobrol dan mendengar cerita jogja tempo doeloe yang tak pernah habis untuk diceritakan, seperti Telaga berair dingin, cerita itu menelusuk dalam jiwaku, menyegarkan jiwaku yang hampir kering oleh tuntutan program kuliah yang padat ditambah kerinduan akan keluarga dikampung.
Sepeda itu sekarang telah berada dimakassar dikirim lewat kantor Pos setelah dipereteli di bengkel sahabatku diJogja dan dibungkus rapi dalam karung, dihantar seorang adik yang sangat baik dan ranum hatinya dan kusayangi ....diatas becak menuju alamat kantor pos yogya khusus pengiriman barang...bersama sepeda ontel pak tua pemilik bengkel sahabatku yang kupinjam menyertai perjalanan kami, kukayuh ontel itu sekuat tukang becak menapak jalanan menanjak bersama butiran keringatku, saksi betapa aku sayang sepedaku.
