Minggu, 15 November 2009

Bersyukur Musibahnya Mati Lampu bukan Gempa ! Refleksi 1 Bulan Pemadaman Listrik


Berolah raga sepeda menjadi kegemaran disetiap pagi sebelum kekantor, menyusuri jalan-jalan kota Makassar menikmati pagi di sepanjang jalan kota Makassar tak terkecuali sepanjang Pantai losari, Benteng Rotherdam,wajah Karebosi yang baru, Menara Bosowa, Monumen mandala, melirik sejenak pendopo gubernur , bangunan bari Menara Kalla dan kembali meniti jalan ratulangi buat sampai kerumah. Suasana pagi memang membawa berkah yang luar biasa buat kita insan yang bersyukur , menatap kota Makassar disetiap pagi, ada keheningan dan kebisuan yang sesekali di iringi tarikan nafas yang dalam menyaksikan geliat pembangunan kota Makassar.
Pembangunan di Sulsel ini begitu pesatnya oleh duo Pemimpin Muda yang penuh spirit , Pak Syahrul di Propinsinya dan Pak Ilham di Kota Makassarnya, maka tak heran kalau pembangunan di Sulsel ini seperti kompetisi membuktian jati diri “ Mappaenteng Siri’, Kualleangi Tallanga na Toalia” Penataan sebuah kota metropolitan terus dilakukan,jalan layangpun jawabannya,penerapan tertib lalulintas terbaru sementara sosialisasi,jangan lagi berbelok kiri langsung ,itu salah satu aturan terbarunya.
Sudah 1 bulan lebih makassar mati lampu bergilir berbagai alasan yang tidak dapat dibantah, mulai dari mengeringnya Bakaru sampai kerusakan instalasi di Sengkang. Kota yang terus berbenah ini kemudian mengalami pemadaman bergilir 2 sampai 3 jam sehari yang bisa berlaku 2 sampai 3 kali sehari, hujatan bercampur keluhan pun berdatangan, ditujukan ke PLN langsung atau sentilan janji-janji pemimpin terpilih untuk jaminan listriknya.
Kondisi mati lampu yang sudah kita rasakan cukup lama ini dengan berbagai kerugian materil dan in materil tidak kemudian menjadikan kita terlalu jauh dalam keluhan-keluhan yang berakhir pada pemakian dan hujatan, berangkali sesekali kita perlu memunculkan pribadi kita sebagai insan yang beragama, membiasakan diri untuk selalu bersyukur kepadaNya untuk kemudian berucap “untung masih mati lampu bukan Gempa”

Rabu, 15 Juli 2009

KEPEDULIAN ITU BERNAMA “ RUMAH SAKIT SAYANG RAKYAT”


Rumah Sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan. Perbandingan antara jumlah ranjang rumah sakit dengan jumlah penduduk Indonesia masih sangat rendah. Untuk 10 ribu penduduk saja, cuma tersedia 6 ranjang rumah sakit. Selama Abad pertengahan, rumah sakit juga melayani banyak fungsi di luar rumah sakit yang kita kenal di zaman sekarang, misalnya sebagai penampungan orang miskin atau persinggahan musafir. Istilah hospital (rumah sakit) berasal dari kata Latin, hospes (tuan rumah), yang juga menjadi akar kata hotel dan hospitality (keramahan).
Sejatinya bahwa pelaksanaan program pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin di rumah sakit bertujuan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Landasan hukum yang mengatur hal tersebut adalah UUD 1945 (amandemen): Pasal 34 angka (1) menyatakan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”.Pasal 34 angka (3) menyatakan bahwa “Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak” .
Secara umum penyelenggaraan pelayanan kesehatan dapat dibedakan menjadi sembilan syarat penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang baik, yakni tersedia (available), menyeluruh (comprehensive), berkesinambungan (countinues), terpadu (integrated), wajar (appropiate), dapat diterima (acceptable), bermutu (quality), tercapai (accessible)serta terjangkau (affordable).(Depkes 2004).
Upaya ini mengalami banyak hambatan karena berbagai faktor seperti sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan yang disebabkan oleh kesulitan biaya, transportasi, belum meratanya sarana pelayanan kesehatan pengetahuan kesehatan yang rendah dan hambatan sosial budaya disamping masih rendahnya pendidikan. Kematian bayi, balita dan ibu melahirkan yang tinggi diderita oleh masyarakat miskin. Krisis ekonomi menyebabkan jumlah penduduk miskin meningkat dengan tajam. Jumlah penduduk miskin tahun 2004 menurut Badan Pusat Statistik lebih dari 36 juta, sedangkan menurut data BKKBN (prasejahtera dan sejahtera satu alasan ekonomi) sekitar 60 juta jiwa atau 15 juta KK. Sementara di tahun 2008 jumlah itu bertambah dua kali lipat menjadi 76,4 juta jiwa. Disamping itu biaya kesehatan yang senantiasa meningkat tajam dan tidak terkendali., berdampak pada penurunan mutu dan akses terhadap pelayanan kesehatan.
Salah satu bentuk perwujudan amanat Undang-undang Dasar yang harus dilaksanakan adalah KEPEDULIAN terhadap pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan, utamanya pelayanan kesehatan masyarakat miskin. Untuk itu pemerintah berupaya untuk mewujudkan rasa keadilan di bidang kesehatan dengan mengupayakan agar setiap penduduk terlayani kebutuhan kesehatannya tanpa membedakan status sosial, walayah, geographis, suku, agama, bahkan kewarganegaraannya. Setiap masyarakat miskin mempunyai hak mendapat pelayanan kesehatan rawat jalan, UGD dan rawat inap di kelas III RS. Setiap masyarakat miskin dapat dirujuk ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih tinggi disertai surat rujukan dan identitas miskin.
“ Rumah Sakit Sayang Rakyat” menjadi jawaban yang sangat realistis dari pemerintah propinsi Sulawesi Selatan untuk mewujudkan KEPEDULIAN itu. Kepedulian dan keberpihakan kepada masyarakat miskin yang selama ini menjadi bahan jualan para elit untuk bertahta di Republik ini. Begitu peka dan besarnya makna SEHAT bagi rakyat karena dapat menyentuh nurani yang paling dalam. Rasa terima kasih dan rasa syukur yang teramat besar karena dapat bekerja lagi untuk menghidupi keluarganya dan puncaknya adalah ketika nikmat sehat itu mereka peroleh tampa mengeluarkan uang sepersenpun alias gratis.
Rumah sakit ini berdiri diatas lahan yang dulunya merupakan bangunan sekolah luar biasa yang ada di Bulurokeng, kecamatan Biringkanaya. Dengan fasilitas 167 kamar dan 1000 tempat tidur, bisa jadi rumah sakit ini menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang cukup besar dan megah yang berlabel GRATIS ” dan benar saja ungkapan Bapak Gubernur Sulawesi Selatan untuk menjadikan Sulawesi Selatan yang terkemuka di republik ini dalam hal pelayanan kesehatan terhadap Rakyatnya “.

Senin, 15 Juni 2009

SEPEDA INI KUBERINAMA “ MALIOBORO SENJA”


Genap setahun sudah sepeda ini menemani keseharianku dimakassar, meski kebersamaan ini terasa sedikit karena hanya ku kayuh di hari libur kantor, menikmati pagi di sepanjang jalan kota Makassar tak terkecuali sepanjang Pantai losari, Benteng Rotherdam,wajah Karebosi yang baru, berkelok ke Monumen mandala, melirik sejenak pendopo gubernur dan kembali meniti jalan ratulangi buat sampai kerumah. Suasana pagi memang membawa berkah yang luar biasa buat kita insan yang bersyukur , menatap kotaku disetiap pagi, ada keheningan dan kebisuan yang sesekali di iringi tarikan nafas yang dalam menyaksikan geliat pembangunan kotaku.
Tiga tahun silam, sepeda ini menemani hari-hari kuliah di yogyakarta, hilir mudik menyusuri jalan-jalan seputar UGM, segala keperluan telah kugunakan, bersama sepeda motor dan mobil mahasiswa yang terparkir setiap hari di pelataran kampus Fakultas kedokteran. Libur kuliah di hari ahad menjadi sore yang sangat menyenangkan karena sepeda ini menjadi teman setia buat menyusuri jalan sepanjang Malioboro terus ke kraton dan berakhir di Grobak pak tua yang menyediakan teh hangat yang dipanaskan memakai arang, kenikmatan yang mungkin agak sulit kunikmati di tempat lain. Meneguk teh dengan ceker dan leher ayam , tahu dan tempe bacem.
Masih segar di ingatan sepeda itu kubeli sehari setelah menginjakkan kaki di pelataran kampus IKM, pagi itu langsung ikut pembekalan yang diselenggarakan minat yang di isi perkenalan dosen dan modul kuliah, berlangsung hingga sore hari, disaat materi terakhir untuk penunjukan ketua kelas saya izin sama teman untuk tidak ikut dan bergegas menuju Malioboro untuk membeli sepeda ini, jelang magrib mataku tertuju toko tempat sepeda merah kombinasi biru ini bertengger dan menarik perhatianku, tidak lama negosiasi harga, saya akhirnya memiliki sepeda ini untuk kemudian menemaniku memulai hari-hari menjadi masyarakat yogyakarta sebagai mahasiswa 2 tahun kedepan...
Banyak kisah yang terlewatkan bersama sepeda ini, termasuk masa MENDUNG SEPEKAN, sepedaku ini selalu rusak , silih berganti bengkel sepeda kudatangi tapi semua hanya bertahan sesaat, setelah itu rusak dan rusak lagi, silih berganti kerusakannya mulai pedal kocak, terali yang putus sampai putaran roda yang tidak rata. Mobilisasi kampus terhambat sementara rasa bersalah turut bersemayam di dada, merasa tidak perduli dan melupakan sahabatku ini,sepeda sebagai hewan tunggangan yang terus ku kayuh tampa pernah memberikan apa yang menjadi haknya...PERAWATAN....resahku.....
Sampai akhirnya di sudut Terban depan MC D, seorang bapak tua dan anak menantunya belakangan kuketahui dari tukang tempel ban menunjukkan bengkel sepeda yang kucari. Setelah kusampaikan keluh kesahku selama sepekan bersama sepedaku menemani hari-hari sulitnya, beliaupun tersenyum ramah dan mulai membuka pedal yang kocak itu....ada keyakinan yang dalam saat kutatap wajah dan tutur kata jawa yang teramat luhur keluar dari mulutnya saat menjelaskan kerusakan itu bahwa masalah sepedaku ini segera akan teratasi.
SUBHANALLAH.....menanti waktu perbaikan sepeda ternyata bukan saat yang membosankan, toko sepeda yang nampak kusut itu ternyata telah membawa suasana dan alur fikir saya di jogja tempo doeloe, didalamnya terparkir lima sepeda ontel yang kuno habis, Belanda banget gitu loh kata orang sini, pak tua itu larut dengan jawaban-jawabannya yang tak putus di dera pertanyaan dari mulut saya, mulai dari tahun sepeda ini bapak miliki sampai jalan2 di jogja dan bangunan yang ada di sekitar bengkel ini dulu seperti apa ? Hal yang amat berkesan karena obrolan kami itu di iringi oleh bunyi gamelan jawa yang damai keluar dari Radio yang tidak pernah berpindah siaran sejak jaman belanda, termasuk posisinya dan radionya sendiri yang super antik dan sangat tua...
Benar saja, sepedaku selama dari bengkel itu tidak pernah rusak lagi, yang terjadi kemudian adalah saya selalu menyempatkan diri setiap pekan berkunjung ke bengkel itu hanya untuk sekedar ngobrol dan mendengar cerita jogja tempo doeloe yang tak pernah habis untuk diceritakan, seperti Telaga berair dingin, cerita itu menelusuk dalam jiwaku, menyegarkan jiwaku yang hampir kering oleh tuntutan program kuliah yang padat ditambah kerinduan akan keluarga dikampung.
Sepeda itu sekarang telah berada dimakassar dikirim lewat kantor Pos setelah dipereteli di bengkel sahabatku diJogja dan dibungkus rapi dalam karung, dihantar seorang adik yang sangat baik dan ranum hatinya dan kusayangi ....diatas becak menuju alamat kantor pos yogya khusus pengiriman barang...bersama sepeda ontel pak tua pemilik bengkel sahabatku yang kupinjam menyertai perjalanan kami, kukayuh ontel itu sekuat tukang becak menapak jalanan menanjak bersama butiran keringatku, saksi betapa aku sayang sepedaku.

Selasa, 09 Juni 2009

CATATAN PERTEMUAN DARI HOTEL GRAND PASUNDAN BANDUNG


Sebuah Pemikiran Untuk Pengembangan Sistem Informasi Cepat

Dilatar belakangi oleh kinerja sistem informasi kesehatan yang dinilai kurang cepat dalam menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan pimpinan sampai kepada keakuratan data yang dipertanyakan. Meningkatnya komitmen pimpinan terhadap pentingnya data dan informasi diharapkan adanya suatu sistem yang dapat memberikan informasi cepat yang dibutuhkan tentunya mengenai masalah kesehatan.
Sistem informasi cepat adalah pengumpulan, pengiriman dan pengolahan informasi secara cepat sehingga sistem tersebut mampu meningkatkan kinerja pelayanan data dan informasi sesuai yang dibutuhkan pimpinan. Tujuan sistem informasi cepat ini adalah untuk meningkatkan kecepatan pengumpulan, pengiriman dan pengolahan data dan informasi yang keakuratannya terjamin dan sesuai dengan kebutuhan.
Keberadaan sistem informasi cepat ini kedepan diharapkan dapat menjawab kebutuhan data bagi pimpinan disetiap tingkat administrasi terutama dapat menjawab pertanyaan presiden tentang keadaan kesehatan secara nasional mapun propinsi dan kabupaten/kota. Sistem informasi cepat ini berisikan kumpulan data yang bereferensi geografis, kumpulan data tersebut umumnya terdiri dari beraneka macam data, seperti indikator SPM, data sarana, tenaga, penyakit dan lain-lain. Memungkinkan terdapat hubungan antara satu data dengan data yang lain baik secara numeris maupun logis yang sangat dibutuhkan untuk pengolahan data atau analaisis lebih lanjut utnuk keperluan tertentu.
Informasi cepat yang dihasilkan diperkirakan berbentuk analisis dalam bentuk data tekstual dan grafik (bar, chat, diagram) yang dapat menginformasikan keadaan yang sebenarnya dengan cepat. Salah satu cara yang sudah banyak dikembangkan adalah dengan sistem sms yang dapat menghasilkan data dengan cepat, tetapi dengan kelemahan hanya dapat menginformasikan data dalam jumlah terbatas. Sistem pelaporan berbasis sms dapat memperbaiki mutu dan kualitas laporan, ketepatan waktu, kelengkapan laporan dan efisiensi biaya. Demikian juga keamanan data terjamin dan sistem pelaporan berbasis SMS dapat memberikan kemudahan bagi pengguna di Puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten/kota untuk action plant.
Pemikiran yang diharapkan dalam pengembangan sistem informasi cepat ini adalah sebagai berikut : 1. Memperhatikan kelayakan kondisi daerah yang bersangkutan dan kemungkinan untuk dilaksanakan di daerah dengan infrastruktur yang masih lemah. 2.Kemungkinan pelaksanaannya dengan mempertimbangkan prosedur dan alur data dari sumber datanya sampai kepada operator data serta kewenangan atasan dalam hal ini Kepala dinas kesehatan propinsi dan kab/kota. 3. Kondisi sumber daya manusia, dilihat dari pelatihan, insentif, status SDM dan lain-lain. 4. Jenis data dan frekuansi/periode laporan (harian,mingguan,bulanan,triwulanan, enambulanan. 5. Sarana dan prasarana dengan pertimbangan apabila dikirim dengan jaringan internet menunggu Siknas Online beroperasi kembali atau lebih baik dengan internet dengan pertimbangan keamanan data. 6. Bila SMS, system harus mempertimbangkan adanya center data SMS (9611 digunakan lagi) dan harus dapat digunakan dengan jenis hand phone yang paling kuno.
Semoga saja rencana dan program – program ini menjadi solusi membaiknya kinerja sistem informasi kesehatan dimasa mendatang.

Selasa, 19 Mei 2009

Seminar dan Lokakarya Pelayanan Kesehatan Gratis


Clarion Hotel & Convention Makassar, 19 Mei 2009

Tanggal 19 mei 2009 bertempat di Hotel Clarion Makassar Sulawesi Selatan, Dinas kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan menyelenggarakan seminar dan lokakarya pemantapan dan pengembangan program pelayanan kesehatan gratis 2009. Acara tersebut di buka secara langsung oleh Gubernur Sulawesi Selatan H.Syahrul Yasin Limpo. Kurang lebih 200 peserta hadir dari seluruh instansi Kabupaten dan Kota se Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dari, Kepala Dinas Kesehatan, Direktur Rumah Sakit RSWS, Kepala Rumah sakit,Kepala UPT Pusat dan Daerah, serta beberapa sektor terkait dengan kesehatan gratis.
Pertemuan ini merupakan upaya untuk mempertajam pelaksanaan program pelayanan kesehatan gratis, dimana telah berlangsung selama 1 tahun. Pelayanan kesehatan gratis adalah semua pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya serta rujukan di kelas III RS pemerintah, tidak dipungut biaya dan menggunakan obat generik. Gubernur dalam sambutannya mengatakan perlunya untuk tetap menjaga kesinambungan program ini dengan melakukan 5 pendekatan pokok :
1.Pendekatan Struktur dan Kelembagaan
Seperti apa unit kerja tersebut dan sejauh mana telah berfungsinya unit-unit kelembagaan tersebut telah mendorong terselenggaranya pelayanan kesehatan gratis di daerahnya masing-masing.
2.Regulasi
Adanya regulasi yang ditetapkan berdasarkan kondisi daerahnya masing-masing
3.Pendekatan Personil
Agar semua pihak baik individu maupun masyarakat memahami program pelayanan kesehatan gratis
4.Pendekatan Budgetting
Anggaran untuk pelayanan kesehatan gratis tersebar secara efektif dan akuntabel
5.Sosialisasi
Penyebarluasan informasi secara terus menerus kepada masyarakat tentang program pelayanan kesehatan gratis.

Pelayanan kesehatan gratis ini merupakan program unggulan pemerintah propinsi sulawesi selatan disamping program pendidikan gratis dan memiliki konsep dasar yang jelas yaitu merupakan kebijakan,visi dan misi gubernur dan wakil gubernur sulsel terpilih, merupakan perjanjian kerjasama(MoU) antara pemerintah propinsi dengan kabupaten dan kota, memiliki dasar hukum yang jelas yang dituangkan dalam peraturan gubernur sulsel nomor 13 tahun 2008 tentang pedoman pelaksanaan program pelayanan kesehatan gratis tahun 2008 dan peraturan daerah propinsi sulsel nomor 2 tahun 2009 tentang kerjasama penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis.
Pertemuan ini diharapkan nantinya dapat menghasilkan kesepakatan-kesepakatan baru untuk penyempurnaan dan perbaikan program kesehatan gratis ini, baik menyangkut regulasi, administrasi, pembiayaan dan tehnis pelayanannya dilapangan.

Selasa, 12 Mei 2009

Terobosan Pendanaan Bagi Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin Sulsel


”Program Kesehatan Gratis Sebagai Pilihan”


Berita salah satu surat kabar lokal di Makassar ada ungkapan menarik Menteri Kesehatan RI. Ibu Fadhilah Supari, menyentil Pemerintah Daerah Jawa Barat , menyoroti anggaran kesehatan untuk daerahnya yang begitu kecil sementara saat kampanye pemilihan kepala daerah begitu bersemangat dalam menebar janji-janjinya untuk memperhatikan kesehatan rakyatnya dengan jargon pelayanan dan pengobatan gratis untuk Rakyat Jawa Barat. Bagaimana mungkin program tersebut dapat terwujud sementara alokasi dana dari pemerintah daerah untuk kesehatan sangat kecil, kata Ibu Menteri.
Pembentukan Undang-Undang No 33/Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dimaksudkan untuk mendukung pendanaan atas penyerahan urusan kepada Pemerintahan Daerah yang diatur dalam Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. Pendanaan tersebut menganut prinsip money follows function, yang mengandung makna bahwa pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan. Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan Daerah.

Sebelum desentralisasi, alokasi anggaran kesehatan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan model negosiasi ke propinsi-propinsi. Ketika sifat Big-Bang kebijakan desentralisasi mengenai sektor kesehatan, tiba-tiba terjadi apa yang disebut sebagai alokasi anggaran pembangunan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang berbasis pada formula.
Formula ini ditetapkan berbasis pada potensi penerimaan dan kebutuhan fiskal oleh sebuah daerah. Dalam formula ini pembagian alokasi anggaran tidak hanya ke propinsi saja tetapi sampai ke sekitar 400an lebih kabupaten/kota di Indonesia. Sesuatu yang mengejutkan terjadi untuk sektor kesehatan karena, di dalam formula DAU komponen kesehatan secara implisit dianggap sudah masuk di dalamnya walaupun secara eksplisit tidak ada. Akibatnya secara praktis sektor kesehatan harus berjuang di tiap-tiap propinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan anggaran. Hal ini merupakan perkembangan baru untuk fungsi pemerintah daerah di sektor kesehatan, yaitu harus merencanakan dan menganggarkan program kesehatan dan bersaing dengan sektor lain untuk mendapatkannya.
Ada hal menarik dalam masalah peran pemerintah dalam alokasi anggaran kesehatan. Di luar DAU, masih banyak sumber anggaran pemerintah pusat untuk kesehatan misalnya melalui dana Kompensasi BBM, Dana Alokasi Khusus, sampai Anggaran Belanja Tambahan (ABT). Big-Bang desentralisasi telah merubah sistem alokasi dari pusat, ada yang langsung ke kabupaten/kota. Sementara itu tradisi alokasi anggaran di pusat belum mantap dalam menggunakan formula berbasis data. Terlihat bahwa fungsi pemerintah pusat belum mantap dalam alokasi anggaran.
Kultur negosiasi dalam alokasi anggaran masih kental, dan menjadi lebih rumit dengan semakin kuatnya pengaruh anggota Dewan Perwakilan Rakyat dalam menentukan kegiatan kesehatan pasca kebijakan desentralisasi. Akibatnya berbagai ketidak-adilan, keanehan, dan ketidak-puasan muncul dalam alokasi anggaran. Salahsatu ketidak adilan adalah ketika daerah-daerah yang miskin mendapat alokasi anggaran yang bobotnya sama dengan daerah kaya. Sebagai gambaran praktis, dalam alokasi dana kompensasi BBM, prinsip keadilan sosial perlu ditegakkan dengan menggunakan formula dimana kekuatan fiskal pemerintah daerah menjadi bobot penting. Bagi kabupaten kaya seperti di Bengkalis atau Kutai Kartanegara, diharapkan mampu untuk membiayai masyarakat miskin di daerahnya. Sementara itu bagi kabupaten miskin, peran pemerintah pusat diperlukan untuk menutup kekurangan.
Komitmen Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan melalui salah satu program unggulannya, ” pelayanan kesehatan gratis” boleh jadi menjadi ikon baru terobosan pendanaan bagi pelayanan kesehatan masyarakat miskin di Republik ini. 2,3 trilyun dana siap diglontorkan untuk mensukseskan program tersebut, pemerintah kabupaten dan Kota se propinsi sulawesi selatan siap bahu membahu mewujudkannya. Program Jamkesmas oleh pemerintah pusat dari data yang ada telah mencover 54 % rakyat miskin di Sulawesi Selatan dan 46 % lagi siap di Cover oleh Pelayanan Kesehatan Gratis.
” Kesehatan belum maksimal di Indonesia dan Sulawesi Selatan mau menjadi yang terkemuka di republik ini dalam hal pelayanan kesehatan terhadap Rakyatnya “

Rabu, 06 Mei 2009

Refleksi ” Satu Tahun Pelayanan Kesehatan Gratis Di Sulsel”


-----”Jangan Belenggu Energimu Untuk Menggratiskan Kesehatan ! ”--------


Hari senin tanggal 13 april 2009 Kantor Dinas Kesehatan mendadak hiruk pikuk kedatangan tamu istimewa, Gubernur Sulawesi Selatan ( H. Syahrul Yasin Limpo) berkunjung dalam rangka silaturahmi dengan segenap karyawan dan karyawati Dinas kesehatan provinsi Sulawesi Selatan. Kunjungan ini berkenaan dengan satu tahun pelaksanaan program unggulan Sulawesi Selatan yakni ”Pelayanan Kesehatan Gratis untuk Rakyat Sulsel”.

Pertemuan ini berlangsung di Baruga ”Sayang”, dengan dihadiri seluruh staf, Kepala Dinas Kesehatan tampil sebagai Pengarah acara dan memberikan sambutan selamat datang. Mengawali pembicaraan, gubernur menyampaikan begitu pentingnya ” SEHAT” hingga tidak bisa tergantikan dengan uang dan jabatan, Kesehatan belum maksimal di Indonesia dan Sulawesi selatan mau menjadi yang terkemuka di republik ini dalam hal pelayanan kesehatan terhadap Rakyatnya. Sehingga seluruh personil kesehatan harus menjadi ujung tombak pertama dalam mendengunkan kesehatan ini.

Fungi pemerintah adalah melayani, melakukan pemberdayaan, memobilisasi dan menjaga tetap terbangunnya kebersamaan kedepan dalam melayani rakyat Sulawesi Selatan agar terjaga dan terjamin kesehatannya. Lakukan sesuatu yang terbaik untuk kepentingan rakyat, gratiskan kesehatan pada tingkat tertentu, sehingga tidak ada lagi rakyat Sulawesi Selatan yang pasrah mati karena tidak punya uang untuk berobat kepelayanan kesehatan.

Lebih lanjut gubernur mengajak untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan, dana yang disiapkan pemerintah provinsi sebesar 2,3 trilyun menjadikan tidak ada alasan untuk menahan fikiran dan tindakan kita untuk memihak dan membela rakyat akan kesehatannya. ” Jangan belenggu energimu untuk menggratiskan kesehatan bagi rakyat ”. Pemimpin yang baik adalah mampu nenunjukkan kemana arah yang akan kita tuju, mengambil keputusan yang tepat, efektif dan efisien dalam setiap gerakan, melakukan koordinasi dalam melakukan setiap tindakan.

Kedepan Sulawesi Selatan harus menjadi Lokomotif Indonesia dan itu bisa dicapai dengan tekad, semangat dan kemauan. Olehnya mari kita mindset diri kita dan orang-orang yang ada di Dinas kesehatan ini dalam melakukan pelayanan kesehatan dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Bangun Matrik Manajemen agenda kegiatan
2. Buat manajemen yang terukur
3. Dorongkan dengan prilaku
4. Lakukan pendekatan struktur dan kelembagaan

Kemauan itu bersumber dari lubuk hati yang paling dalam, ketika hati sudah bekata tidak maka apapun usaha dan keinginan kita untuk mau melakukan yang terbaik buat rakyat sulit akan terwujud.